Pengikut

Selasa, 01 Maret 2011

NYEPI

HARI RAYA NYEPI


 

  1. Latar belakang "Hari Raya Nyepi"


 

Untuk menyingkap sejak sebelum ada apa – apa, yaitu semasih dalam suasana

Kosong / sepi, ternyata disitu terdapat kehidupan yang bisa hidup bertahan tanpa memerlukan makan dan minum bahkan selalu aktif melakukan aktivitas tanpa pernah absen selama 24 jam. Siapa yang dimaksud, tiada lain adalah TUHAN itu sendiri, Beliaulah menempati suasana sebelum terjadi apa – apa dan beliau memiliki kemampuan yang tiada taranya, super prima dan maha dari segalanya. Orang Bali dalam menyebut kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, menulis sastra suci aksara Bali yang berbunyi "ONG". Kata ini merupakan perpaduan dua huruf yaitu : O dan NG, penjelasannya :"O" artinya Alam Semesta, dan "NG" artinya : Getaran atau Kehidupan yang bisa hidup tanpa memerlukan apa – apa sebagaimana layaknya umat manusia. Aksara Bali yang disebut "ONG" ( Eka Aksara ), kemudian dikatakan sastra suci, karena melihat fungsinya untuk menjungjung tinggi Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu – satunya Sumber Kehidupan dari Segalanya.

Untuk menyambut kebesaran Tuhan sesuai dengan suasana yang ditempatinya, Umat Hindu Bali menakan Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya besar untuk menyambut dan memperingati kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sebagai Cikal Bakal Ing Dumadi. Dengan kata lain yaitu menyambut dan memperingati suasana awal, sebelum tercipta apa – apa / kosong. Karena itu pelaksanaan Hari Raya Nyepi agar tidak menyimpang dari makna yang terkandung sebelum terjadi apa –apa, maka dibuatlah aturan sebagai berikut :

  1. Tidak Menyalakan Api.
  2. Tidak Melakukan Aktifitas.
  3. Tidak Makan.
  4. Tidak Bepergian.

( yang kemudian disebut Catur Brata Penyepian ).

Namun sehari sebelum Hari Raya Nyepi tepatnya pada hari tilem kesanga, Umat Hindu Bali secara serentak melaksanakan Upacara Bhuta Yadnya yaitu :Upacara yadnya suci yang kemudian disebut " Mecaru " artinya adalah : Mecah Ruangan atau Membuka suasana Baru, supaya kembali kepada asalnya sebelum terjadi apa – apa. Kembalinya suasana ini, sangat diharapkan oleh Umat Hindu Bali, agar kelak menjadi suasana Heneng, Hening, Tentram, Damai dan Seimbang. Sebagai mana halnya sebelum ada apa – apa.

Umat manusia bisa ada seperti sekarang, karena sumber penyebabnya adalah berasal dari unsur dua listik yaitu Ibu dan Bapak atau IMeme dan IBapa atau Rangda dan Barong. Sehingga persembahan upacara rasa syukur dan terima kasih kepada Ibu ( Bumi ) dan Bapak ( Langit ) atau terhadap Alam Nyata dan alam Niskala, tentunya sedapat mungkin harus berkaitan dan cocok dengan yang diberi. Pengungkapan dua unsur saat pelaksanaan Upacara Mecaru dalam menyambut Hari Raya Nyepi / tepatnya pada hari Tilem Kesanga artinya : Tilem = Malam = Bapak = Unsur Cair ( Air ). Kesanga = Angka Sembilan ( 9 ) = Unsur Panas = Api = Ibu. Semua kehidupan apapun yang tumbuh dan berkembang diatas Bumi dan di bawah Langit berasal dari Ibu dan Bapak, termasuk para Butha Kala yang disebut Sanghyang Panca Maha Butha seperti di bawah ini :

1. Unsur Udara     = Langit     = I Butha Putih         = Neptu 5.

2. Unsur Panas     = Matahari     = I Butha Baang     = Neptu 9.

3. Unsur Cahaya= Bulan     = I Butha Kuning    = Neptu 7.

4. Unsur Cair    = Bintang     = I Butha Ireng     = Neptu 4.

5. Unsur Padat     = Bumi     = I Butha Manca Warna    = Neptu 8.

Kelima unsure inilah yang menempati Bhuana Agung dan Bhuana Alit, Kelima unsure ini selain disebut Panca Maha Butha, juga disebut Dewa, Betara dan Sanghyang, seperti di bawah ini ( di Bhuana Agung ) :


 

  1. I Bhuta Putih Berada di Timur, Dewanya Iswara, = Betara Iswara = Sanghyang Iswara dan Aksara Balin bunyinya SANG
  2. I Buta Bang Berada Di Selatan Dewanya Brahma = Betara Brahma = dan Aksara Balinya Bunyinya BANG
  3. I Buta Kuning Berada di Barat Dewanya Mahadewa = Betara Mahadewa = Sanghyang Mahadewa dan Aksara Balinya Bunyinya TANG
  4. I Butha Ireng Berada di Utara, Dewanya Wisnu, = Betera Wisnu, = Sanghyang Wisnu, Aksara Balinya Bunyinya ANG
  5. I Butha Manca Warna Berada Di Tengah / Madya / Pancer, Dewanya Siwa, = Sanghyang Siwa, Aksara Balinya Bunyinya ING. Kelima Dewa Inilah Yang Di Juluki "Sedulur Papat Ke Lima Pancer" Atau Manusia Mempunyai Saudara Empat Dan Yang Kelima Kita Sendiri. Adapun Hubungannya Dengan Buana Agung dengan Bhuana Alit atau Bhuana Sarira Seperti Dibawah Ini :

    1. Rohani    = Roh    = Atma    = Gaib    = Unsur Udara

    2. Tenaga    = Bay= Energi    = Power    = Unsur Panas

    3. Rasa     = Perasaan    = Harkat Martabat    = Unsur Cahaya

    4. Pikiran    = Akal    = Pengolahan    = Unsur Cair

    5. Tubuh     = Badan    = Kumpulan     = Unsur Padat


     

        Itulah Keterkaitan Manusia Dan Sanghyang Panca Maha Butha, Nampaknya Ada Hubungan Garis Lurus Secara Vertical Yaitu Keterkaitan Manusia Dengan Alam Semesta, Keterkaitan Manusia Dengan Manusia. Yang Kemudian Disebut TRI HITA KARANA.


     

B. Nilai – Nilai Luhur "Ida Sang Hyang Widhi Wasa"

    Untuk Memuliakan Nilai-Nilai Luhur Ida Sang Hyang Widhi Wasa Yang Ada Pada Bhuana Agung, dan Membesar-Besarkan Nama Beliau, Maka Kelima Unsur Tersebut Kita Tempatkan Pada Tempat Yang Paling Tinggi Dari Segala-Galanya.


 

  1. Unsur Udara, Tuhan atau Sang Hyang widhi dalam manifestasinya sebagai unsur panas diberi Nama I RATU NGURAH SAPUH JAGAT, Beliau Yang Ditempatkan Pada "Pelinggih Tugu" Agar Sesuai Dengan Sifat Beliau Sebagai Langit. Tugu Artinya Tegeh = Tinggi dan Tanpa Batas. Beliau Adalah Ratuning Jagat / Rajanya Dunia Sekarang. Bila Kita Ingin Menyampaikan Rasa Syukur dan Terimakasih Kepada "I RATU NGURAH SAPUH JAGAT" Sebagai Dewa Tugu, Maka Haturkanlah Sesajen Berupa Ketipat Dampul Berisi Iwak Telor, dan Pada Rencang Beliau Yang Disebut Ibuta Putih Haturkanlah Segehan Putih, Maiwak Bawang Jahe Dan Garam Sedikit. Kalau Mengadakan Upacara Mecaru Pada Pelinggih Tugu, Pakailah Ayam Putih Yang Di Olah Menjadi 5 Porsi Sesuai Dengan Warna Dan Neptunya Yang Dibawa Yaitu 5.
  2. Unsur Panas, Diberi Nama "I RATU WAYAN GODEG" Beliau di Tempatkan Pada Pelinggih Batunya (Lebuh), Agar Sesuai Dengan Sifat Beliau Sebagai API (MATAHARI). Beliau Adalah Ratuning Panas Serta Mampu Sebagai Pelebur Dan Mahapencipta. Sekarang Bila Kita Ingin Menyampaikan Ucapan Rasa Syukur Dan Terimakasih Kepada "I RATU WAYAN GODEG" Sebagai Dewa Batunya Atau Dewa Lebuh, Maka Haturkanlah Sesajen Berisi Tipat Galeng, Berisi Iwak Telor, Dan Pada Rencangan Beliau Disebut I BUTA BAANG Haturkan Segehan Merah / Barak, Iwak Bawang Jahe, Dan Garam Sedikit. Kalau Mengadakan Upacara Mecaru Pada Pelinggih Batunya / Pelinggih Lebuh, Pakailah Ayam Biying (Merah) Yang Di Olah Mnejadi 9 Porsi Supaya Sesuai Dengan Warna Dan Neptunya Yang Dibawa Yaitu 9.
  3. Unsur Cahaya, diberinama "I RATU MADE ALANG KAJENG" Beliau Ditempatkan Pada Pelinggih JRO DUKUH (PELINGGIH PENUNGGUN KARANG) Agar Sesuai Dengan Sifat Beliau Sebagai Cahaya / Sinar Bulan. Beliau Adalah Ratuning Terang Serta Mampu Menerangi Alam Raya Termasuk Rumah Sekitarnya. Sehingga Indah Dipandang Mata. Sekarang Bila Kita Ingin Menyampaikan Ucapan Rasa Syukur dan Terimakasih Kepada "I RATU MADE ALANG KAJENG" Sebagai Dewa Penunggun Karang (JRO DUKUH), Maka Haturkanlah Sesajen Berisi Ketipat Gangsa Berisi Iwak Telor, Dan Pada Rencangan Beliau Yang Disebut I BUTHA KUNING Haturkanlah Segehan Kuning, Iwak Bawang Jahe, dan Garam Sedikit. Kalau Mengadakan Upacara Mecaru Pada Pelinggih Dukuh (Penunggun Karang), Pakailah Ayam Putih Siyungan (Wiring Kuning) Yang diolah Menjadi 7 Porsi Supaya Sesuai Dengan Warna Dan Neptunya Yang dibawa Yaitu 7.
  4. Unsur Cair, diberi Nama "I RATU NYOMAN BATU MEDIDING" (I RATU NYOMAN SAKTI PENGADANGAN) Beliau di Tempatkan Pada Pelinggih Taksu, Agar Sesuai Dengan Sifat Beliau Sebagai Air / Zat Cair / Bintang. Beliau Adalah I RATUNING DAGANG (RAJANYA AIR) Serta Mampu Memberi Kesuburan, Kemakmuran Dan Kesejahteraan Manusia Dan Alam Sekitarnya. Sekarang Bila Kita Ingin Menyampaikan Rasa Syukur dan Terimakasih Kepada "I RATU NYOMAN BATU MEDIDING" (I RATU NYOMAN SAKTI PENGADANGAN) Sesuai Dewa Taksu, Maka Haturkanlah Sesajen Berisi Tipat Gong, Berisi Iwak Telor, dan Pada Rerancangan Beliau Yang Disebut I BUTHA IRENG ( Hitam ) Haturkanlah Segehan Ireng (Hitam), Iwak Badeng, Jahe, dan Garam Sedikit. Kalau Mengadakan Upacara Mecaru Pada Pelinggih Taksu, Pakailah Ayam Ireng (Ayam Hitam) Yang Diolah Menjadi 4 Porsi Supaya Sesuai Dengan Warna Dan Neptunya Yang Dibawa Yaitu 4.
  5. Unsur Padat, Diberi Nama "I RATU KETUT PETUNG / I RATU SANGHYANG GILIMAYA" Beliau Yang Ditempatkan Pada Pelinggih Taksu Agung (PELINGGIH PELANGKIRAN) Agar Sesuai Dengan Sifat Beliau Sebagai Unsur Padat (Bumi) Beliau Adalah Ratuning Jagat Buana Agung dan Buana Alit. Sekarang Bila Kita Ingin Menyampaikan Ucapan Rasa Syukur dan Terimakasih Kepada "I RATU KETUT PETUNG / I RATU SANG HYANG GILIMAYA" Sebagai Pelinggih Taksu Agung, Maka Haturkanlah Sesajen Berupa Ketipat Nasi / Ketipat Lepet, Berisi Iwak Telor, dan Pada Rerencangan Beliau Yang Disebut I Buta Manca Warna, Iwak Bawang, Jahe. dan Garam Sedikit. Kalau Mengadakan Upacara Mecaru Pada Pelinggih Taksu Agung Pakailah Ayam Manca Warna / Brumbun (Belerok) Yang Diolah Menjadi 8 Porsi Supaya Sesuai Dengan Warna dan Neptunya yang dibawa yaitu 8.


 

Demikian Keterkaitan Manusia Kepada Kelima Unsur Tersebut. Yang Tidak Bisa di Pisah-Pisahkan, Bahkan Beliau Selalu Menemani Kita Dengan Sangat Setia Selama Hidup Sampai Pulang Kealam Baka (Mati).

    Untuk Memperingati Cikal Bakal Kita Berasal Dari Tuhan Yang Maha Esa, Yaitu Berasal Dari Yang Kosong / Disebut Suwung = Sepi. Maka Peringatilahkejadian Itu Pada "HARI TILEM KESANGA" Sebagai Manusia yang Berbudi Luhur dan Mempunyai Peradaban Tinggi, Tentu Akan Memperingati Kejadian Itu Sebagai Tanda Ucapan Terimakasih Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dengan Melaksanakan Upacara Ritual Seperti Mecaru Manca Sato/Mecaru Eka Sata (Ayam Brumbun) Sebagaimana Halnya Kita Berasal Dari Kelima Unsur.

Adapun Pelaksanaanya Sangat Baik Dilakukan Sangat Baik Dilakukan Bertepatan Pada Hari "TILEM KESANGA" Setelah Melakukan Upacara Mecaru Manca Sato / Eka Sata Besoknya Adalah "HARI RAYA NYEPI" Yang Dilakukan Secara Bersama-Sama dengan Hening, Heneng, Tentram, Damai, dan Seimbang Dibarengi Dengan "CATUR BRATA PENYEPIAN" Apabila Kita Semua Sudah Memperingati Asal Usul Kita Talah Melaksanakan Perintah Tuhan Yang Maha Esa Sebagai Salah Satu Sumber Dari Segala Sumber.


 

C. Makna Tilem Kesanga

    Untuk Lebih Jelasnya Perlu Diketahui Makna Kata "HARI TILEM KESANGA" Sebagai Berikut :

  1. Kata Hari Artinya = Saat = Waktu = Zaman.
  2. Kata Tilem Artinya = Bulan Mati = Peteng = Gelap = Tidak Melihat Apa-Apa = Suwung = Sepi = Kosong.
  3. Kata Kesanga Artinya = Sembilan = Angka 9 = Angka Terbesar = Namu Gelang = Akhir Perjalanan Angka (Setelah Angka 9 Tentu Kembali Ke 0 dan 1)


 

Ada 3 (Tiga) Tempat Untuk Melaksanakan Upacara Peringatan Pada Tiap-Tiap "Hari Tilem Kesanga" Yaitu Mecaru di Masing-Masing Rumah Tangga Sebagai Berikut :

  1. Pada Pelataran Sanggah / Merajan.
  2. Pada Pelataran Pekarangan (Depan Rumah).
  3. Pada Pintu Keluar Masuk Pekarangan (Lebuh).


 

D. Tata Cara Melaksanakan Upacara Pecaruan

1. Pada Pelataran Sanggah / Merajan Maupun Di Pelataran Rumah, Kita Buat Caru Ayam Brumbun / Belorok, Kemudian Diolah Menjadi 33 Porsi (Tanding). Adapun Tujuannya Dibuat Sebanyak Itu, Supaya "Sedulur Papat Kelima Pancer" Atau Sanghyang Panca Maha Butha Semua Mendapat Bagian Sesuai Dengan Jumlah Neptu Yang Ada Padanya.

2. Status Caru Ayam Brumbun, Dengan Olahan 33 Porsi (Tanding) Kita Haturkan Kepada Ida Sanghyang Panca Maha Butha Yaitu: I BHUTA PUTIH , I BHUTA BAANG, I BHUTA KUNING, I BHUTA IRENG, DAN I BHUTA MANCA WARNA. Boleh Juga Disebut Dengan I BHUTA JANGGITAN, I BHUTA KERUNA, I BHUTA LEMBUKA/LEMBU KANUA, I BHUTA LANGKIR, I BHUTA KALA DENGEN/I BUTA ANGGA SAKTI.

3. Canang Raka Daksina Dan Tirta Yang Di Tempatkan Pada Sanggah Cucuk, Kita Haturkan Kepada Sang hyang Tiga Sakti Dan Sang Hyang Widhi Wasa Sebagai Maha Ibu, Sebagai Penembahan Pada Pura Tri Kayangan Karena Kita Telah Dibukakannya Pintu Lahir Dari Rahim Ibu.

4. Pada Pintu Keluar masuk Pekarangan (Lebuh), Kita Buatkan Dan Haturkan Sesajen Berupa Nasi Mecahcah atau Nasi ditakir Sejumlah 108 Dan Iwaknya Jeroan Ayam/Babi. Apabila Upacara Mecaru Sudah Kita Lakukan dipelataran Sanggah/Merajan, Dipelataran Rumah dan di Lebuh, Berarti Kita Telah Selesai Melakukan Upacara Peringatan Ketika Kita Baru Dilahirkan dari Rahim Ibu.

5. Adapun Makna Yang Terkandung di Dalam Nasi Cahcah Sejumlah 108 dan Iwak Jeron Ayam dan Babi Adalah Sebagai Berikut :

  1. Nasi Cahcah Sejumlah 108, Maksudnya diPetik dari Neptunya Unsur Panas = 9 = 33 X 3 = 99 + 9 Sebagai Penghubung Sehingga Menjadi 108. Kenapa ada Plus 9? Karena di Perhitungkan dari Pada Kurang, Sebaiknya diberi Lebih.
  2. Iwak Jeroan Ayam/Babi, Kejadian ini Menggambarkan Isi Perut Yaitu Mengungkap Kehidupan Manusia Ketika Masih Berada Dalam Jro Garbaning Ibu. dengan Mempersembahkan Nasi Cahcah 108 dan Iwak Jeroan, Berarti Kita Sudah Selesai Melakukan Upacara Peringatan Kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa Sebagai Maha Ibu Baik Semasih Dalam Kandungan Maupun Sampai Kelahirannyatiba.
  3. Yang Diberi Nasi Cahcah Berisi Iwak Jeroan Adalah : Ida Betara Dalem Yang Disebut Betara Durga dan Boleh Pula Disebut Sanghyang Sunia Mertha dan Segenap Merencangan Beliau.
  4. Sesajen Berupa Canang Raka Daksian dan Selengkapnya Ditempatkan Pada Sanggah Cucuk, Dihaturkan Kepada Ida Betara Surya, Kalau Seperti Ini Cara Kita Mempersembahkan Sesajen Caru Nasi Cahcah Berisi Iwak Jeroan Pada Lebuh Berarti Akan Tepatlah Sesananya Yang Dituju. Jadi Dapat Disimpulkan Bahwa Lahirnya Sanghyang Panca Maha Butha Adalah Berasal Dari Sifat Beliau Sang Hyang Widhi Wasa Sebagai Maha Ibu.
  1. Untuk Menjalankan Caru Apa Saja, Asal Hanya Satu Porsi Saja, Misalnya : Memakai Ayam, Bebek,Atau Binatang Lainya Yang Penting Satu Ekor Bisa Memakai Mantram Dibawah Ini:

Mantram :

        "Ong, Rah Kaki Betara Kala, Nini Betara Kali, Muah I Buta Saigon-Igon, Sang Kala Ngadang, Sang Kala Ranjingan. Iki Tadah Sajinira Ring Kelasa Manca Warna Ijak Sawadwan Sira Kabeh, Aja Acilan Aja Puranga, Asing Kirang Asing Luput, Mangda Enak Sira Amukti ...... (Sebut Caru Ayam Brumbun) Manut Urip, Yan Sire Sampun Wus Mangan Nginum, Mantuk Tesira Ring Dang Kahyang Gania Soang-Soang"


 

  1. Setelah Itu Baru Percikan Tirta Sesuai Neptu Dari Bintang yang Dipakai Misalnya:

    A. Ayam Putih         = 5.2.11

    B. Ayam Biing (Merah)    = 9.4.13

    C. Ayam Putih Sinungan    = 7.7.15

    D. Ayam Hitam        = 4.9.17

    E. Ayam Brumbun        = 8.1.6


     

        Bila Pecaruan Itu Olahannya Ayam Brumbun 33 Tanding (33 Porsi) Baru Kemudian Percikan Tirta Selain : 8.1.6 Juga Ditambahkan Lagi Dengan Hitungan Yaitu : 5.9.7.4.8 Dan Tiap-tiap Angka Sekian Kali Percikanya, Ikuti Sesuai Angka Tersebut diatas.

    SADURANQ


     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar